The Blues is Like Salt. There's a Little Bit of It in Everything -- Even Ice Cream

Voice of Thoughts

Blog EntryMelesetMar 2, '08 6:36 AM
for everyone
Suatu hari seorang lelaki kaya raya sedang bermain golf dengan ditemani seorang caddy. Dia tidak mahir bermain, sehingga tidak heran pukulannya banyak yang melenceng.

Pada hole pertama dia pasang kuda-kuda, raut mukanya sangat serius, matanya dia picingkan seolah-olah seperti seekor elang yang sedang mengincar mangsanya.

"Wuuts..." dia pukulkan tongkat golfnya sekuat tenaga. Tetapi apa mau dikata, pukulannya meleset. Jangankan bolanya mengarah ke lubang yang dituju, bolanya terpukul saja tidak.

Sembari melemparkan tongkat golfnya, dia mengumpat, "Anjing...meleset!!!"

Seketika itu pula sang caddy mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. "Pak, jangan mengumpat, nanti Dewa marah."

Lelaki kaya itu tentu saja tidak mau dinasehati oleh caddy. Dengan mata mendelik dan nada tinggi dia menjawab, "Apa peduli mu? Tugasmu hanya sebagai caddy!"

Dia kembali memasang kuda-kuda. Kali ini tampangnya tambah serius. Lagi-lagi dia meleset. Dia lemparkan tongkat golfnya jauh-jauh sembari berteriak "Aaannnjiiiinng...meleset!!! Brengsek!!!"

kembali caddy itu mendekat. Kali ini dengan tampang memelas dia berbisik dengan hati-hati, "Pak, jangan bilang kasar. Dewa bisa murka. Orang yang suka mengumpat suka tersambar petir!"

"Sialan...kamu hanya caddy! Kalau kau masih saja menasehati ku, aku tak akan memakai lagi jasamu! Diaaaammm!!!" Wajah lelaki kaya itu merah padam.

Di kesempatan ketiga, lelaki kaya itu berhasil memukul bola golf itu. Mukanya tampak kegirangan. Tetapi ternyata bola golf itu meluncur terbang dengan sangat melenceng. Bukannya ke arah lubang yang dimaksud, bola golf itu dengan suksesnya terbang ke arah pepohonan.

Kali ini dengan berteriak sangat keras lelaki itu membanting tongkat golfnya. "Jahanam, brengsek, anjing...meleset!! Lagi-lagi meleset!!!"

Tiba-tiba langit siang itu yang cerah berubah menjadi gelap gulita. Awan hitam tampak menutupi langit lapangan golf. Suara petir menggelegar. Lelaki kaya itu kini pucat pasi. Sang caddy merinding ketakutan. Mulutnya komat-kamit. Caddy itu berkata, "Tuh kan Tuan...kata saya juga apa! Lihat tuh, Dewa murka!"

"Jelegerrrr....duaarrr..." tiba-tiba petir menyambar! Lelaki kaya itu memejamkan matanya. Ketika dia membuka matanya, dia tambah keheranan lagi. Dilihatnya caddy mati mengenaskan di sampingnya. Sekujur tubuhnya hangus dan berasap.

Di langit terdengar suara menggema..."Anjing...meleset!!!"

Blog EntryI Love YouFeb 19, '08 3:26 PM
for everyone
I love you more than you can imagine
When I see your face it brighten up my day
I love you more than words can ever tell
Even more than what I'm about to say

I don't remember the last time I felt like this
You make me feel the real me
You don't know how happy it makes me
When I can share things with you, comfortably

I love the way you smile
I love the way you make me laugh
And you give me hope
When things get a little sad

All of your hugs make me feel free
From all the drama and trouble that life brings my way
If I would have one wish and one wish only
I wish for this love to be here to stay

Blog EntryThe Light of My LifeFeb 19, '08 3:07 PM
for everyone
In the darkness,
I found your light.
When all was hopeless,
your beauty shown bright.

When I thought that I
could love no more.
You touched my heart,
to the very core.

You made me smile,
when I could only frown.
You picked me up
when I was down.

When all was lost
you gave me life.
You brought me joy
instead of strife.

Now I think of you
every day and night.
you came into my life
and made everything right.

I smile when we're together
and when we are apart.
the presence of your beauty
stops my very heart.

I hope as time goes on
you will see how I feel.
and I hope that you will see
that these feelings are for real.

I love you truly,
I love you wholly.
I love you completely,
I love you solely.

Blog EntryI PromiseFeb 19, '08 2:45 PM
for everyone
The moment I saw you cry
My world came crashing down
To see those tears fall from your eyes
Turned my smile into a frown

I wanted to hold you
Make everything alright
But there was nothing I could do
To stop you from crying that night

I felt like a failure
To myself and to you
But you said that was nothing
That I could do

I held you close
And made your pain my own
I tried to make it feel
Like you were home

You kissed me softly
Said you would be alright
But there was something in your eyes
That had me worried that night

And to this day I promise
Not to let you cry alone
And to take the pain you feel
And make it my own

Blog EntryPengkhianat CintaFeb 8, '08 1:28 AM
for everyone

Pengkhianat janji-janji cinta,

Pada akhir semua hanya dusta.

Kau sebut selalu mau,

Aku disini kau tunggu.

 

Apa makna rasa, asa, dan rencana,

Terkarat tak lagi berharap tuk cepat bersama.

Benar, ku gagal ini jadi abu,

Berbeda jadinya yang dulu berlalu.

 

Semua kini tak sepenuhnya sama,

Di dalam sana ternyata berbeda rasa.

Pedih pilu berbaur melulu,

Setelah akhir tertoreh sembilu.


+rangga+



Blog EntryMencari BingkaiFeb 7, '08 1:12 PM
for everyone

Tuan, bingkai itu tak layak.

Tak sedap dipandang,

Jangan Tuan paksakan terpajang.

Lagipula, dengan apa aku pakukan,

Dan aku tak tahu mesti dimana.

Benar Tuan, dimana?

 

Biar kucarikan dahulu,

Dari hilir ke hulu,

Ke semua penjuru.

Tuan disini menunggu,

Biar aku yang berlalu.

Tak perlu ada serukan hamun.

 

Aku akan memajangnya

Dengan senyum kebanggaan,

Di tembok putih yang luas,

Dimana orang berlalu lalang.

Bukan sekarang, Tuan.

Waktu ini belum tepat.

 

Nanti kan terjadi

Ingin yang Tuan harapi.

Demi matahari yang tak pernah mati,

Kan kucari pasti.

Itu kan terganti,

Sebentuk indah menanti.


+rangga+


Blog EntryRinduFeb 7, '08 1:00 PM
for everyone
Bulir air mata

Menapak muka.

Cahaya ternoda

Hitam terbaca.

 

Maka dengar kata-kata

Sungguh bukan bohong belaka.

Kau tak ada,

Kau di mana


+rangga+


Blog EntryPetuah CintaFeb 7, '08 12:57 PM
for everyone

Suatu hari seorang tua berkata

Tentang badai datang melanda.

Ada hilang banyak tiada,

Tak sedikit pula air mata.

 

Tapi dia juga berkata,

Tak perlu takut ku rasa.

Jika aku punya cinta,

Semua bukan apa-apa.

 

Cinta hadir untuk mereka,

Aku, kamu, dan semua yang percaya.

Aku dan kamu bersama cinta.

Cinta ada karena badai takkan terasa.


+rangga+


Blog EntryWhat Else You Can Give Me, My Lord?Feb 7, '08 12:21 PM
for everyone

When words are broken and muteness erects,

Touches of caress seem relaxing.

Is that correct, My Lord?

You hold honesty and you carry love feeling.

And yet I feel sceptical, my Lord!

Bitterness is thickening, you force me to swallow it.

I cannot refuse that whilst you never really care.

Isn’t it true, my Lord?

This hope is wishing for your nods of concuring.

 

Somehow, what I ask for appears to be just imaginary.

It won’t be able to be real, even for just a tiny moment.

Are you invincible?

Those words are voicing and echoing.

You believe that you’ve never been wrong!

You force me to consent,

Albeit my body doesn’t want to do that.

You know what I mean, don’t you?

This hope is missing for the humming of confession.

 

No worries, my Lord.

I let them all happen.

All neglected rips

Exist solely because you have no needle and yarn.

Even if you had them, you wouldn’t want to knit them back.

 

Thus, you shouldn’t be filled with remorse,

If I just walk away.

The tracks of reminiscence perhaps will be everlasting,

However, I won’t go back.

These lines are going to be the witnesses.

 

Will you be repentant?

Will you beg for me?

Will you ask for me?

Will you even cry?

What else you can give me, my Lord?


+rangga+


Blog EntryMasa DepanFeb 7, '08 11:10 AM
for everyone
Masa depan, dimana semua tak lagi sama
Di saat ku tak lagi di sini
Tak pandangi ini semua
Tak sentuhi yang biasa ku miliki

Masa depan, ketika ku berpijak di tempat asing
Melihat, meraba, menyapa
Merasakan semua bising
Semua kan segera tampak

Masa depan, di saat ku jalani perbedaan
Semua yang baru mengelilingi
Ada dan tak ada
Dahulu menghilang akan terganti

Tapi semua itu akan kuarungi
Ku tempuh karena ku sudah memilih
Pilihan yang tak dapat terganti
Karena ku tak mungkin juga singkirkan semua ini

Semua akan berakhir pada satu jalan yang sama
Andaikata badai menerjang
Pula banjir menyapukan
Ku tak kan terhadang

Kataku kepadamu
Seperti juga kau tahu
Bahwa kan kukejar keinginan itu
Masa depan kita selalu


+rangga+

Blog EntryKuntum-kuntum Bunga KertasFeb 7, '08 10:21 AM
for everyone

Seperangkat komputer Macintosh menyala di pagi hari yang dingin di apartemen Damian. Seperti biasa, Damian tak pernah mematikan komputer pada malam hari. Dia membutuhkan sedikit suara untuk menemaninya tidur. Sebenarnya bisa saja dia menyalakan televisi atau radio, tapi dia lebih suka ditemani suara komputer yang jelas-jelas tak bernada itu. Gerungan sayup-sayup yang ditimbulkan mesin komputernya membuat dia merasa tenang untuk tidur setiap malamnya. Bagi Damian, suara perbincangan orang dan rangkaian nada musik yang mengalun dari televisi atau radio saat dia ingin tertidur tidak lebih bagaikan suara petasan yang menyala-nyala tepat di depan telinganya, benar-benar mengganggu!

Minggu pagi ini tampak sedikit berbeda. Mata Damian sudah terbuka pada pukul tujuh, alih-alih dia tetap tertidur pulas hingga pukul sebelas siang. Terlebih lagi disaat musim dingin seperti sekarang, seharian bermalas-malasan di atas tempat tidur merupakan kegiatan yang menyenangkan. Tak lama bagi Damian untuk terjaga sepenuhnya, hanya butuh beberapa kejapan mata yang pelan, sedikit garukan pada kepala yang rambut panjangnya tak pernah mengenal sisir itu, serta serangkaian stretching. Hop! Dua detik kemudian dia sudah terduduk di pinggir kasur berukuran king size itu. Hingga empat puluh lima detik kemudian dia belum melakukan apa-apa. Bukan karena merasakan kantuk kembali, tetapi lebih karena dia tampak sedikit kebingungan, apa yang dia mesti lakukan pertama kali.

Semua orang tahu jika Damian seorang yang well organized. Semua kegiatannya sangat tersusun rapi dan dia tidak pernah telat disaat mempunyai janji pertemuan. Itulah salah satu faktor mengapa Damian banyak disukai dan dikagumi orang-orang di sekelilingnya. Menjadi seorang yang well organized sangat membantu Damian dalam menjalani kuliah doktoralnya di Stanford University, selain juga karena tingkat intelegensia Damian yang mengagumkan.

Tak lama setelah Damian beranjak bangun dari tempat tidurnya, dia berjalan pelan menuju keran penyucian piring, memutarnya, menampung sedikit air dalam tangkupan telapak tangannya, menyiramkan ke wajahnya, lalu mengambil gelas. Dia isikan air hingga meluber keluar, kemudian menenggaknya hingga habis dalam dua kali tegukan saja. “Aahhh!” begitu Damian mengekspresikan kelegaannya. Semalaman tidur membuat kering tenggorokannya. Dia letakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja makan dengan sedikit hentakan keras, membuat Rexotic, kucing Cornish Rex kesayangannya, terkaget dan menggoyangkan kepalanya, seakan menyangka bahwa Damian ingin mengajaknya bermain.

Semalam Damian baru pulang pada pukul dua dengan kemeja yang tidak terkancing, membuat kaus oblongnya yang bertuliskan Being a Communist Means Being Exiledboxer short ke atas kasur lalu tertidur pulas. Tak heran jika sekarang Damian merasakan hang over dan itu juga sebuah penjelasan mengapa dia lalu terduduk di kursi makan sembari memijat-mijat kepalanya. dengan huruf merah darah jelas terlihat. Pada malam itu alkohol menyengat saraf-saraf otak Damian sedemikian hebatnya, membuat dia segera menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tanpa banyak basa-basi lagi Damian langsung melemparkan tubuhnya yang hanya berbalutkan secarik

Terlalu banyak yang mesti Damian lakukan hari ini, hingga pusing dan sakit kepala yang sedang menyerang tak lagi dihiraukannya. Pancaran lampu dari kulkas yang terbuka membuat ruangan dapur sedikit lebih terang disaat Damian mengambil bungkusan daging sapi asap untuk kemudian mengambil tiga iris tebal. Setelah itu barulah Damian menyalakan lampu dapur, karena dia kesulitan mencari tempat mentega. Setelah memanaskan penggorengan dan memasukkan dua sendok mentega, dia lemparkan tiga iris tebal daging sapi asap itu. Sembari menunggu salah satu sisi irisan-irisan itu cukup matang, Damian mengambil sebatang rokok kretek buatan Indonesia untuk dinyalakannya. Isapan yang kuat mengisi penuh paru-paru Damian, dan dengan satu hembusan keras, segumpal asap pekat keluar dari mulut dan lubang hidungnya.

Lima menit kemudian Damian sudah terduduk santai di kursi makannya. Perlahan dia kunyah irisan itu, matanya menatap langit-langit, menerka apa porsi itu sudah cukup untuk bisa membuatnya kenyang. Piring besar yang ada di depan Damian itu penuh sesak oleh irisan daging asap, segenggam kentang goreng yang diberi garam, serta sembilan iris tomat segar. Lama kelamaan Damian mempercepat kunyahannya, setelah dia merasa porsi pagi hari ini cukuplah untuk mengisi rongga kosong di ususnya.

Tak terasa sudah pukul delapan, Rexotic sudah mengusap-ngusapkan kepalanya pada pangkal kaki Damian, dan suara anak-anak kecil yang sedang bermain lempar bola salju sudah terdengar dari halaman parkir luar. Damian sudah menghabiskan rokok ketiganya, sedangkan bir sudah hampir habis ditenggaknya dari kaleng. Dia mesti bergegas mempersiapkan diri, karena pada pukul sepuluh pagi dia mesti menemui Dr. William, psikolog langganannya sejak 5 tahun lalu.

+++++++++

Suatu malam di musim dingin sepuluh tahun yang lalu, semuanya terasa sangat indah. Hawa dingin yang menyengat tulang tidak dapat membendung kegairahan hati yang dirasakan Heidi. Malam itu pertama kalinya Heidi akan bertemu seseorang sebagai sepasang kekasih.


Senyuman tipis tergambar di wajah Heidi tatkala dia mendengar langkah-langkah mendekati halaman depan rumahnya. Sudah berkali-kali dia melirik jam dinding, berharap waktu segera pukul delapan malam.

Heidi tinggal sendirian di situ. Tidak begitu besar ukurannya, tetapi sirkulasi udaranya sangat baik. Rumah itu mempunyai tiga buah kamar, yang karena dia tinggal sendirian, maka dua kamar sisanya hanya dipenuhi oleh tumpukan buku dan sejumlah bingkai foto yang dicampakkan begitu saja di lantainya. Kesan berantakan dan penuh debu yang tergambar dari kedua kamar itu langsung pupus jika mengetahui gambaran kamar tidur Heidi. Sungguh sebuah ruangan yang terjaga kebersihan dan keindahannya, sesuai dengan kecantikan paras pemiliknya.

Sebuah tempat tidur berukuran besar berlapiskan
bed cover biru, dengan dua buah meja kecil pada kedua sampingnya, terletak pada sudut kanan kamarnya. Dua buah lampu kecil berwarna perak menghiasi meja-meja itu, sedangkan beragam majalah memenuhi laci salah satu mejanya, dengan banyak bungkusan obat dan setumpuk kertas pada laci meja yang lainnya. Kamar itu selalu berbau harum, karena Heidi menyemprotkan pengharum ruangan setiap harinya. Terlebih lagi disaat malam hari, Heidi tak lupa menyalakan dupa pewangi. Bukan hanya membuat kamarnya tambah wangi, tetapi juga dia percaya bahwa dupa pewangi itu dapat membuatnya tidur dengan lelap. Selain tempat tidur besar yang mahal itu, kamar itu berisikan juga tiga buah lemari baju, sebuah meja rias, tiga bingkai lukisan, dan juga kamar mandi dengan shower dan bathtub sebagai pilihan.      

Disamping tiga buah kamar dan dua kamar mandi di bagian atas rumah, di bagian bawah terletak dapur yang selalu terjaga kebersihannya, ruang keluarga, juga ruang kerja yang dipenuhi tumpukan buku dan seperangkat komputer berteknologi terbaru. Secara keseluruhan rumah itu tidak begitu besar dan berkesan mahal, tetapi Heidi dengan sukses telah menciptakan aura keindahan dan kebersihan. Di saat dia sibuk dengan kuliahnya, dua orang sewaan yang dengan telaten akan membersihkan keseluruhan bagian rumahnya.

Tiga ketukan terdengar dari pintu depan rumahnya. Heidi yang sudah menunggu tepat di depan pintu tak lama semenjak tadi dia mendengar langkah-langkah kaki di halaman rumahnya, segera saja dengan bersemangat membuka pintunya. “Hai!” Terlihat sesosok pria yang dengan canggungnya berdiri dihadapannya. Tangan kanannya menggaruk-garuk kepalanya dan tangan kiri disembunyikannya dibelakang bagian tubuhnya.

Sebagian orang akan heran bila mengetahui bahwa Heidi berpacaran dengan lelaki itu. Tak perlu diragukan jika Heidi sangat cantik. Kulitnya begitu putih mulus, hidungnya mancung, bibir tipis berwarna merah jambu yang terlihat menggoda, dadanya padat berisi dengan ukuran yang proporsional, sedangkan rambutnya berpotongan pendek seksi sepanjang leher. Heidi terlihat lebih cocok jika mempunyai pacar seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berotot dan berambut serta berpakaian rapi, dibandingkan dengan lelaki yang saat itu sedang berdiri di hadapannya. Rambut lelaki itu panjang tak keruan, terlihat sekali jika sisir tak pernah menjamah rambutnya. Celana jeans kusam dengan jahitan yang memenuhi bagian kedua lututnya, serta sweater tebal yang menutupi kaus oblong putih polos kumal semakin mempertegas penilaian bahwa lelaki itu tidak peduli sama sekali terhadap penampilan luarnya.         

Alis Heidi terangkat, senyuman terlihat lagi di bibirnya, dan tangannya meraih pundak lelaki itu. Seketika itu juga lelaki itu berhenti menggaruk rambutnya, dan sebagai gantinya dia masukkan tangannya ke dalam kantung celananya. “A..aku lima belas menit telat. Pemanas rumah rusak, aku mesti memperbaikinya dahulu. Jika tidak begitu, kucingku akan kedinginan malam ini.” Heidi tidak menjawab, dia malah menarik pundak lelaki itu dan dengan sedikit dorongan dia arahkan lelaki itu ke dalam rumah. “Di luar dingin sekali, lebih baik kau masuk dulu.” Dengan perlahan lelaki itu melangkah menuju ruang keluarga, kesan kikuk masih saja ditunjukkannya, terlihat dari bibirnya yang dia gigiti dan garukan pada kepala yang dilakukannya lagi. Lelaki itu celingukan menoleh ke arah kanan dan kiri, seolah bingung hendak duduk dimana, padahal sofa empuk tepat berada di depannya.

Heidi lagi-lagi tersenyum melihat tingkah polah lelaki itu, tetapi dia tidak berusaha mencairkan suasana. Langsung saja dia melangkah menuju dapur untuk membuat dua mug coklat panas, sementara lelaki itu malah menghembus lega melihat Heidi menghilang ke luar ruangan. Ada waktu untuk menghilangkan ketegangan, begitu pikirnya.

Tak lama, Heidi sudah kembali ke ruang keluarga. Dia letakkan mug-mug itu di atas meja, lalu dia terduduk disampingnya. Muka lelaki itu tertunduk, mulutnya sedikit terbuka, dan dengan pelan dia berkata, “Aku masih tidak percaya, kau sekarang kekasihku. A..a..aku...ba..baha..bahagia sekali.” Jemari lentik Heidi diusapkannya pada pipi lelaki itu, “Damian, aku cinta kamu!” dengan lembut dia bisikkan kata-kata itu di telinga Damian.

Tangan kiri Damian yang sedari tadi selalu disembunyikannya di belakang tubuhnya kini perlahan dia gerakkan ke bagian depan tubuhnya. “Ini untukmu,” ujarnya sambil menunjukkan sekuntum bunga yang terbuat dari kertas berwarna merah dan juga harum seperti bunga aslinya. “Aku sengaja membuatnya untukmu”. “Kau belajar dari mana membuat bunga seperti ini, Damian? Kursus origami?” ujar Heidi sembari tersenyum. Tatapan matanya tertuju kepada Damian, membuat Damian tersenyum juga. Dia senang Heidi menyukai pemberiannya, darahnya seakan mengalir lebih cepat dalam urat-uratnya, jantungnya berdegup lebih kencang. Ingin sekali Damian mencium bibir Heidi. “Tidak, ini belum saatnya! Ini baru kencan pertama, Damian!” dia berkata dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian Damian menengadahkan mukanya, dilihatnya muka Heidi yang sudah bersemu merah, “Aku hanya mengikuti instruksi dalam buku tentang origami.” Heidi pun tertawa mendengar penjelasan itu dan Damian ikut tertawa pula. Rupanya suasana malam itu sudah mulai cair.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Coklat panas sudah tidak tersisa setetes pun dan tampaknya mereka berdua sudah kehabisan ide untuk mengobrol. “Lebih baik aku pulang sekarang. Kucingku pasti kesepian. Kita bertemu besok di kampus”. Damian beranjak dari sofa dan diikuti oleh Heidi. “Aku senang kau mau datang ke tempatku malam ini. Besok aku tunggu di taman kampus jam satu. Mau kan menemaniku makan siang?” Tidak mungkin Damian menolak ajakan itu. Bangga sekali apabila teman-temannya tahu bahwa Heidi kini telah menjadi pacarnya. Pastilah banyak yang akan cemburu, selain juga banyak yang tidak akan percaya.

Sudah dua minggu Damian dan Heidi berpacaran. Teman-teman mereka masih saja ada yang tidak percaya bahwa Damian bisa mendapatkan hati Heidi. Tetapi cinta memang tak bermata, cinta memilih tanpa alur yang jelas. Cinta seringkali hadir dengan penjelasan irasional.

Bagaimana pun Damian dan Heidi merupakan sepasang yang cocok. Terlihat sekali bahwa cinta mengisi relung-relung diantara mereka. Tak diragukan lagi bahwa Damian dan Heidi saling mencinta sepenuh hatinya.

“Hey, sedang apa? Rupanya tugas akhir masih saja membuatmu sibuk ya?” Damian berkata sambil mendekati Heidi yang sedang tenggelam dalam tumpukan buku di satu meja perpustakaan. “Nanti malam aku mau mengajakmu makan. Pilih sushi atau makanan Italia?” “Apapun lah, asal kau disampingku pasti aku mau!” balas Heidi sambil tetap saja konsentrasinya tertuju pada buku-buku itu. “Well then, see you later!”

Malam itu mereka mengisi perutnya di Bellucci’s Restaurant yang terletak di Thirteenth Avenue. Damian memilih menu Beef Cordon Bleu, sedangkan Heidi cukup sepiring kecil Spaghetti Carbonara. Dua gelas anggur menemani mereka, terdengar pula sayup-sayup Rondo Alla Turca-nya Mozart dari pengeras suara yang ada di dinding restoran itu.

Restoran itu termasuk kelas atas, setidaknya terlihat dari aturan yang mengharuskan para pengunjungnya untuk mengenakan jas. Damian sendiri mengenakan jas hitam dengan kemeja biru tua, dasi berwarna merah hati, dengan celana hitam dan juga sepatu hitam mengkilat. Sedangkan Heidi terlihat seksi sekali. Gaun putih yang dikenakannya tampak sangat indah, belahan pada bagian depan yang memperlihatkan sedikit bagian atas dadanya membuat dia terlihat jauh lebih sensual lagi.

Dua tegukan anggur membasahi kerongkongan Damian sebelum dia mulai berbicara. “Cepatlah lulus kuliah, aku ingin menikah denganmu. Aku ingin menikah denganmu secepatnya. Sudah tiga tahun kita berpacaran. Hingga kapan lagi kita hidup terpisah seperti ini? Kau selalu menolak ajakanku, dengan alasan kau ingin konsentrasi dahulu pada kuliahmu. Aku mencintaimu, Heidi. Aku menunggumu!”

Selama tiga tahun mereka berpacaran, tak pernah sekalipun mereka bertengkar hebat selama berhari-hari. Kalau pun mereka “berperang”, dalam satu atau dua jam sudah berbaikan lagi. Damian orang yang lembut, dia sangat romantis. Dia tak pernah berbuat kasar secara fisik terhadap Heidi, apapun alasannya. Dia tak tega apabila tubuh mulus Heidi tergores olehnya. Singkat kata, Damian merasa bahwa Heidi merupakan orang yang cocok untuk mendampinginya hingga maut menjemput nanti.

Satu tahun semenjak mereka mulai berpacaran, Damian mulai berkeinginan untuk menikahi Heidi. Walaupun mereka berdua berada ditengah budaya Amerika, itu tidak lantas membuat Damian mengajak Heidi untuk tinggal bersamanya. Damian berpikir, jika memang merasa cocok langsung saja menikah, tak perlu ada istilah tinggal serumah dengan alasan trial marriage.

Damian mulai tinggal di Amerika selepas menamatkan pendidikan menengah atas di Indonesia, negara asalnya. Heidi, walaupun juga berdarah Indonesia, tetapi lahir di Amerika. Keluarganya sudah tinggal di sana selama tiga generasi, bermula dari neneknya yang dinikahi oleh seorang pengusaha Amerika yang lalu mengajaknya untuk pindah ke Amerika. Dengan begitu Ibu Heidi berdarah campuran Indonesia – Amerika, sedangkan ayahnya sendiri orang Indonesia asli yang mengungsi ke Amerika selepas awal keruntuhan orde lama. Beliau percaya bahwa keruntuhan Soekarno berarti juga kemeranaan Indonesia secara absolut.

Damian bertemu Heidi bermula dari acara yang diadakan Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) di suatu hari yang cerah di taman pinggiran kota Miami. Terus terang saja, alasan yang diutarakan Damian bahwa dia berkenalan dengan Heidi karena Damian ingin tahu orang Indonesia yang telah lama tinggal disana tidaklah sepenuhnya benar. Kecantikan Heidi lah yang menggaet perhatian Damian waktu itu.

Belum saja Heidi merespon perkataannya, Damian sudah mengeluarkan sekuntum bunga kertas warna merah dari kantung jasnya. “Kita sudah berhubungan selama tiga tahun, berarti sudah tiga puluh enam buah bunga yang kuberikan. Banyaknya bunga yang kuberikan selama ini kepadamu merupakan pengingat waktu bahwa kita sudah berjalan bersama sekian lama.” Heidi benar-benar terharu mendengar kata-kata itu. Bulir-bulir kecil membasahi pipinya. Mereka lalu berciuman dengan mesra. “Aku mau menikah denganmu. Beri aku waktu tiga bulan lagi ya. Sebentar lagi aku lulus, dan aku berjanji sisa hidupku nanti hanya kuberikan kepadamu.”

Seminggu sudah sejak pertemuan terakhir kali di restoran itu. Damian belum juga bisa menemui Heidi kembali. Dia sudah rindu, ingin memeluk dan mengecup lembut bibirnya lagi. Damian ingin melepas penat dengan mengobrol dengan Heidi, tertawa, melihat daun berguguran, dan merasakan hembusan lembut angin semilir disaat mereka sedang berbaring di taman kampus tempat mereka biasa menghabiskan waktu siang.

Segala macam cara Damian lakukan untuk menemui Heidi. Ini tidak biasa, pikirnya. Rumah Heidi selalu kosong. Bahkan suatu hari, Damian menunggu Heidi pulang semalaman, tetapi dia tak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Telepon selulernya selalu tidak aktif, teman-teman sekelas Heidi pun tidak tahu dia kemana. Menurut mereka, Heidi hanya berkata hendak berlibur beberapa hari ke rumah orang tuanya di Seattle. Damian telah menelepon orang tua Heidi, tapi mereka berkata bahwa Heidi tidak ada disana.

Cemas mulai merasuki pikiran Damian. Dia mulai kelimpungan memikirkan hal ini. Tidak tahu lagi mesti kemana dia mencari Heidi. Di siang hari, yang hanya bisa dia lakukan kemudian hanyalah terduduk di taman kampus, berharap Heidi datang tiba-tiba. Sore harinya dia pulang ke apartemen, mandi, makan malam, berganti pakaian, lalu memacu mobilnya ke arah rumah Heidi. Dipandanginya pintu rumah Heidi dari dalam mobilnya, terus begitu hingga dia tertidur karena sudah tidak tahan menahan kantuknya.

Selama tiga hari kemudian kegiatan itu Damian lakukan setiap hari. Untung saja Damian sudah lulus kuliah dan belum punya pekerjaan, sehingga kegiatan itu tidak mengganggu jadwal lainnya.

Akhirnya setelah berhari-hari tidak membuahkan hasil, Damian mulai menyerah. Damian mulai berpikir bahwa Heidi sedang sangat marah kepadanya, hingga menemuinya saja tidak mau. Biarlah, dia pikir lambat laun Heidi pasti akan menghubunginya juga. Bagaimanapun Heidi sangat mencintai Damian.

Sebagai penghilang rasa cemas, kaleng dan botol bir mulai rutin menemani hari-hari Damian. Sebelumnya hanya sesekali saja dia minum bir, misalnya diwaktu pagi hari minggu setelah jogging dan disaat malam hari sembari merokok dan menonton siaran televisi kabel kegemarannya. Kini, paling tidak 5 kaleng bir dan 2 botol kecil bir ditenggak setiap harinya. Tetapi dia tidak pernah mabuk karenanya. Hanya minuman spirits yang dapat membuatnya terkapar.

Tiba-tiba saja setelah sekitar satu bulan Heidi menghilang tanpa kabar, pada suatu pagi telepon seluler Damian berdering. Dengan malas tangan Damian meraba-raba bagian atas bantalnya, mencari asal suara bising itu. Pagi itu baru pukul enam, tetapi telepon sudah berdering lagi. Tidak biasanya Damian sudah terganggu sepagi itu, kecuali disaat Heidi datang ke apartemennya untuk membangunkannya dengan pelukan hangat dan kecupan kecil di keningnya.

Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Damian langsung saja mengangkat telepon itu. Matanya masih terpejam erat, belum bisa dia buka sedikit pun. “Damian, temui aku tiga puluh menit lagi di rumah”. Damian terhentak kaget. Dia terbangun dari tidurnya seketika. Matanya sontak terbuka, dan tubuhnya langsung terduduk di pinggir tempat tidurnya. “Heidi, dari mana saja kamu?” Tetapi sambungan telepon sudah terputus, Heidi tidak ingin berbicara banyak di telepon.

Damian dengan tergesa-gesa memasuki kamar mandi. Dia mandi dan sikat gigi sekenanya, lalu berganti pakaian. Tak lupa dia beri makan dulu Rexotic, kucing kesayangannya. “Makan yang banyak!” ujarnya pada kucing itu.

Belum lagi tiga puluh menit Damian sudah mengetuk pintu rumah Heidi. Banyak sekali pertanyaan memenuhi otak Damian saat itu. Ingin sekali dia menginterogasi Heidi dengan daftar pertanyaan yang dia siapkan di pikirannya. “Masuklah Damian, aku akan buatkan kopi dan sandwich”. Sesaat Damian lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang hendak diajukannya, karena sandwich dan kopi sudah terbayang di pikirannya. Nikmat sekali rasanya di pagi hari menatap wajah cantik Heidi dengan ditemani segepok sandwich dan kopi.

Rupanya bayangan kenikmatan sandwich dan kopi tidak lama bertahan di otak Damian. Baru saja Heidi datang memberikan sandwich dan kopi, tetapi itu tidak dihiraukan Damian. Diletakkannya begitu saja sandwich dan kopi itu di meja dapur, dan Damian langsung memeluk kencang Heidi. Dirasakannya agak sedikit berbeda pelukan Heidi pada saat itu, tidak sehangat biasanya. “Kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu kemana-mana. Aku kangen! Aku cinta kamu!” Tanpa disangka, Heidi malah melepaskan pelukan Damian, lalu dia berkata, “Ada sesuatu yang mesti aku bicarakan sekarang...”

Suasana dapur rumah Heidi terasa dingin sekali karena mereka berdua terduduk tanpa berkata apapun selama lima menit. Lalu Heidi mulai berujar, “Aku sangat mencintaimu, Damian. Lebih dari apapun di dunia ini. Sebulan terakhir aku menghilang karena aku mesti memikirkan sesuatu dengan sangat serius.”

Heidi meletakkan telunjuk kanannya pada bibir Damian, “Biarkan aku menyelesaikan dahulu kalimatku”, ujarnya. “Aku pikir ini saatnya kita berpisah, Damian.” Seketika itu juga langit-langit dapur seakan runtuh menimpa kepala Damian. “Apa maksudmu?! Kita sebentar lagi akan menikah!” Tetapi Heidi hanya menundukkan kepalanya. Tetesan air mata terlihat mulai membasahi pahanya. “Sungguh Damian, tak terbayangkan bila kita menikah. Kau tahu kehidupan di Amerika itu sungguh berat. Biaya hidup disini jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Aku tak bisa mempertaruhkan hidupku kepadamu. Kau hanyalah seorang pengangguran. Sudah setahun kau lulus kuliah, tetapi hingga saat ini kau belum juga bekerja.” Heidi berhenti sebentar untuk menghapus air matanya yang sudah menetes deras. “Bagaimana bisa kita menikah dengan keadaan kamu yang seperti ini. Bagaimana pun aku butuh seorang lelaki yang mapan secara finansial. Dua bulan lagi aku lulus kuliah, aku harap kau jangan lagi menemuiku. Tak lama setelah lulus, aku akan pindah ke Inggris untuk mengambil kuliah pasca sarjana.” Mulut Damian menganga dan bergetar, tangannya tercengkeram dengan erat, matanya sudah berkaca-kaca, hatinya bagai menerima tusukan beribu jarum kecil. Tidak disangkanya pertemuan setelah perpisahan selama satu bulan itu akan menjadi malapetaka besar yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

Heidi beranjak dari tempat duduknya, lalu dia membalikkan badannya. Dia tidak mau lagi melihat Damian. “Pulanglah Damian, jangan temui aku lagi. Hadapi kenyataan, ini sudah berakhir untuk selamanya.” Damian tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Dia mendekati Heidi, tetapi dia malah semakin menyingkir. Rupanya cinta sudah benar-benar terhapus dalam diri Heidi.
+++++++++

Barisan mobil dan motor terjejer rapi di basement apartemen itu. Hanya ada dua orang petugas kebersihan yang sedang mengangkut tumpukan sampah kering dan basah serta seorang paruh baya yang terlihat memasuki Maybach-nya dengan hidung yang terlihat memerah karena kedinginan. “Mornin’ Bob! How’s it going so far?” teriak Damian dari kejauhan. Bob hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangannya ke arah Damian, lalu dia menghilang ke dalam mobil berkaca sangat gelap itu.

Bob ialah seorang yang sangat unik. Dia kaya raya, uangnya menumpuk di beberapa Bank di Swiss, membeli selusin mansion pun dia sanggup. Apartemen itu memang untuk kalangan atas, tapi dengan kekayaan yang dimilikinya, lebih pantas Bob menjadi pemiliknya. Istri dan ketiga anaknya tinggal di sebuah mansion mewah di daerah Riverside, California. Sebulan sekali Bob mengunjungi mereka selama tiga hari. Kelihatannya hubungan keluarga mereka tidak begitu hangat.

“Bloody motherfucker!” umpat Damian ketika menyadari ada goresan panjang yang melecetkan pintu depan kanan mobilnya. “Perbuatan terkutuk ini selalu saja dilakukan Josh! Apa yang ada di benaknya ketika menyupir dalam  keadaan mabuk seperti itu? Disangkanya mobilku ini terbuat dari baja, apa?” Sudah lima belas kali mobil Damian tergores seperti itu, dan sepuluh diantaranya merupakan perbuatan Josh si tinggi besar, hidung pesek, perut buncit, berbau alkohol itu. “Aku juga sering mabuk, tapi tak pernah sekali pun menabrak!”

Beberapa saat kemudian Hummer itu sudah melaju kencang di Highway 44th. Damian mengemudikan mobil yang kacanya terbuka itu. Sikut kiri Damian terlihat menggantung di tepian kaca itu, dengan kaleng bir Miller dalam genggamannya. Melalui handsfree
yang menempel di kuping telinga kanannya dia hubungi Dr. William, “I’m on my way. I’ll be there in 45 minutes…”
+++++++++

Setelah Damian sampai di tempat Dr. William, dua jam setengah berikutnya Damian habiskan untuk menceritakan kegiatan-kegiatan yang sudah dia lakukan dalam dua minggu terakhir. Sembari berbaring di atas sofa berlapis kulit, sesekali Damian tersenyum dalam tuturan kata-katanya. Sedikit tetesan air mata juga tampak berbayang di pelupuk matanya disaat dia bercerita tentang “kesedihannya” karena mendapat nilai A- dalam suatu tes. Banyak juga guratan dan catatan kecil yang Dr. William tulis dalam buku kecilnya.

“Bagus…bagus…sekarang kamu sudah kelihatan tampak tenang. Hidup itu memang fluktuatif kan Damian? Bagaimana bisa kamu lihat warna hitam jika kertas putih tak pernah kamu tulisi? Bagaimana bisa kamu rasakan keindahan jika kesedihan tak pernah mendatangi kamu? Baiklah, kita bertemu tiga minggu lagi ya Damian! Besok saya mesti ke San Francisco selama dua minggu lebih.”

Dengan secara berkala Damian menceritakan isi hatinya, lima tahun terakhir ini dia berhasil bangkit dari keterpurukan yang pernah hampir mencabut nyawanya. Jika sewaktu itu di rumah sakit ketika Damian sedang diberikan obat penawar racun karena dia menenggak obat tidur secara berlebih dia tidak diperhatikan Dr. William, bukan tidak mungkin Damian akan kembali mencoba bunuh diri. Dr. William sewaktu itu entah kenapa merasa “terpesona” ketika melihat Damian yang sedang tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit itu, sambil tiga orang suster dan seorang dokter jaga sibuk di sekelilingnya. Mungkin memang aneh mendapati sebuah fakta tentang seorang Asia berpenampilan kumuh meregang nyawa di sebuah rumah sakit di Amerika. Seketika itu juga Dr. William yakin bahwa orang itu perlu mendapatkan perhatian kejiwaan.

Sungguh, dengan hanya beberapa bulan konsultasi kejiwaan, Damian mulai menampakkan potensi akademisnya. Berita percobaan bunuh diri yang dilakukan Damian tersebar di seantero kampus. Para Profesor semakin memberikan perhatian khusus bagi Damian, rekan-rekan sekelas Damian beberapa kali mengunjungi Damian secara khusus di rumah sakit dan di apartemennya. Sedangkan Heidi? Hanya seikat bunga dan kartu bertuliskan “Get well soon” yang hinggap di depan pintu apartemennya.

Kurang lebih enam bulan berikutnya Damian sudah mulai bisa mengikuti perkuliahaan secara intensif. Bahkan banyak yang tak menyangka, nilai-nilai yang didapatkan Damian jauh semakin luar biasa saja. Hingga lulus bachelor degree, GPA yang Damian dapatkan tak pernah kurang dari 3,8.

Kuliah tingkat master’s degree juga Damian tamatkan dengan GPA luar biasa memuaskan. Nilai 3,9 dengan gampang dia capai begitu saja. Sekarang, kuliah tingkat doktoral hampir selesai di tuntaskan.

Andai saja Dr. William tidak mewarnai ulang pikiran dan hati Damian, niscaya sekarang Damian telah kembali ke Indonesia dengan tangan hampa.

Semenjak Damian lulus bachelor degree, Heidi sudah tidak ada lagi kabarnya. Banyak yang bilang bahwa dia benar-benar pergi ke Inggris untuk melanjutkan kuliah tingkat master’s degree di Cambridge University.

Upacara kelulusan kuliah masih tiga minggu lagi, tapi tawaran pekerjaan sudah mulai banyak berdatangan. Akhirnya setelah dia lulus dengan keajaiban yang ditunjukkannya (GPA 3,95), Damian memilih untuk menapaki karier pekerjaannya di sebuah perusahaan software. Pertama kali masuk dia langsung menempati posisi HRD Manager, dan selama tahun-tahun berikunya, karier Damian menanjak terus dengan sangat cepatnya.

Kelebatan-kelebatan bayangan Heidi sesekali masih berseliweran di benak Damian. Walaupun pekerjaan selalu membuat Damian sibuk siang malam, tak pernah sekali pun bayangan wanita lain hinggap di pikirannya. Hanya Heidi…selalu Heidi…tak ada yang lain. 

+++++++++

Kini, lima tahun setelah Damian bekerja di perusahaan software itu, dia sudah menjadi seorang CEO. Gajinya sangat besar, jauh melebihi tiga kali lipat gaji Presiden Indonesia sekali pun. Rayuan dan godaan yang hampir tiap hari Damian dapatkan dari bawahan dan rekan kerja wanita nya tak ada yang mampu menembus tembok tebal hati Damian. Tembok tebal itu terkunci rapat, dengan kunci yang ada hanya pada Heidi.

Suatu hari, hujan lebat berangin mengguyur New Orleans. Damian teduduk nyaman di jok bagian belakang limosinnya. Supirnya yang berjas menyupir dengan tegap, matanya dia picingkan dengan kepala yang didekatkan ke kaca depan. Wiper berkecepatan tertinggi pun tidak bisa membuat jelas pandangan supir itu. Hujan parah itu bahkan membuat beberapa pohon tumbang.

“Bisakah kau lebih cepat lagi? Untuk apa kau takut hujan? Saya ingin cepat-cepat sampai di rumah, berendam dalam air hangat ditemani kaleng bir.” Sebut Damian sembari memperhatikan pinggiran jalan. “Yes Sir!” Pedal gas semakin ditekan lebih dalam lagi oleh supir itu.

Tiga puluh sembilan menit kemudian angin sudah berhenti berhembus kencang dan hujan sudah agak reda. Di suatu pengkolan jalan kecil tampak sepasang tua renta berjalan tertatih-tatih. Payung dalam genggaman tangan keriput kakek tua itu tampak bergetar. Sedangkan tangan kiri nenek menggenggam pelan mantel tebal kakek itu. Damian mengernyitkan dahinya. “Sedang apa mereka di tengah guyuran mengerikan seperti ini?” begitu pikir Damian ketika melihat sepasang tua renta itu. “Arthur, menepi! Suruh mereka masuk ke mobil! Brengsek, kemana pula anak kedua kakek nenek itu?! Membiarkan orang tua mereka basah kuyup, mengigil kedinginan…idiot!”

Baru saja limosin itu menepi, sepasang tua renta itu sudah berbelok memasuki sebuah pemakaman besar. “Ya Tuhan…kasihan! Pasti mereka merasa kehilangan sekali! Di tengah hujan lebat seperti ini pun mereka memaksakan diri mendatangi kuburan…” Damian menggigit jarinya, botol bir kosong dilemparkannya ke lantai mobil. “Siapa yang dikubur disana…Arthur, payungi saya!”

Damian menuturi kedua tua itu dari kejauhan, Arthur berusaha melindungi kepala Damian dengan payung sembari melompat-lompat kecil menghindari genangan air. Beberapa langkah kemudian kakek nenek itu berhenti di depan sebuah nisan marmer berukuran sedang. Kepala mereka tertunduk. Walaupun tetesan-tetesan hujan dengan lebatnya masih berjatuhan di pinggiran payung itu, Damian masih dapat merasakan dengan jelas aura kesedihan yang mendalam dari kedua wajah itu.

“Siapa itu, Kek?” tangan Damian menyentuh pundak kakek itu. “Pasti Kakek dan Nenek…”  Damian tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Mulutnya bergetar hebat, diremasnya kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu seketika itu juga Damian terduduk di tengah kubangan air. Tidak dihiraukannya celana Calvin Klein mahalnya menjadi kotor berlumuran air kotor dan lumpur. “Tidaaaaaaaaaaaaakkkkk…………bohong……ini bukan kenyataan!” Nisan marmer itu bertuliskan: Heidi Abigail Krisna, 19 Juli 1965 – 23 Maret 1988.


Kedua tua itu tercengang dengan hebatnya. Tidak disangkanya pada saat itu Damian bisa tiba-tiba muncul di situ. “Damian…kenapa kau bisa ada disini?! Apa yang kau lakukan dari tadi?”

+++++++++

Penjelasan panjang diberikan sepasang tua renta itu. Mereka ternyata adalah orang tua Heidi. Damian tenggelam dalam pelukan keduanya. Dijelaskannya bahwa Heidi terpaksa meninggalkan Damian dengan kejam karena dia mengidap kanker stadium lanjut. Heidi sangat yakin bahwa Damian akan menjadi seorang yang sukses. Tidak terbayangkan dalam benaknya untuk menikahi Damian untuk waktu yang hanya sangat singkat. Heidi merasa jika dia meninggal dengan status sebagai istri dia, maka Damian akan semakin hancur. Lebih baik Heidi tinggalkannya secepat mungkin, dengan “melecehkan” Damian agar dia semakin terlecut kedepannya.

Ibu Damian mendekatkan kepalanya ke arah Damian. Diusapnya kepala Damian yang sudah sangat basah itu. “Heidi meninggalkan pesan. Dia bilang, hanya kau yang ada di hatinya selamanya. Cinta Heidi merangkulmu setiap saat, Damian…”

Tak lagi mampu Damian berkata apapun. Tenaga dia sudah terkuras habis oleh air matanya. Nisan marmem itu Damian dekati, lalu dia memeluknya dengan erat. "Aku berhasil, Sayang! Ini semua demi kau! Tak akan pernah ku menikah hingga malaikat maut menegtuk pintu ku. Kita bertemu lagi nanti...di surga!"


Blog EntryTrue LoveFeb 7, '08 9:45 AM
for everyone
True Love...
It does not mean loving a perfect person
It means loving an imperfect person perfectly

True Love...
It does not have an ending
Because it simply never ends

Blog EntrySoeharto Mati, Mari Menghitung Dosa SoehartoJan 27, '08 8:48 AM
for everyone
I just found a very interesting article (in Indonesian language) posted in soehartoincbuster.org. Here I put the article.

Soeharto Mati, Mari Menghitung Dosa Soeharto

Oleh: M.Fadjroel Rachman

Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan [Pedoman Indonesia]

Bila Jenderal Besar (purn) Soeharto mati, maka para pengikut setianya juga berharap keadilan dan hukum ikut mati bersamanya. “Soeharto tidak bisa diadili,” kata Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden dan Ketua Umum Partai Golkar (10/1). Tentu JK, Partai Golkar dan kroni Soeharto meminta semua kasus Soeharto dihentikan (dideponir), karena berhutangbudi secara politik dan ekonomi. Bagi mereka, pengadilan in absentia juga tak boleh dilakukan, karena akan menyeret mereka sebagai penjahat Orba, larena itu biarlah Sang Jenderal Besar sebagai penjahat Orba satu-satunya.

Presiden Jenderal (purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kualalumpur juga memerintahkan Jaksa Agung, Hendarman Supandji, menawarkan kepada keluarga Soeharto untuk menyelesaikan kasus Soeharto di luar pengadilan (11/1). Kemudian meralatnya, tapi sungguh sial Jaksa Agungnya malah membenarkan instruksi dari Kualalumpur itu. Kita jadi tahu, betapa SBY mati-matian berupaya menolong bekas atasannya ini, dengan cara apa pun. Kita tahu, bila di luar pengadilan, berarti presiden mengingkari Indonesia sebagai negara hukum (rechstaat). Juga mengingkari Ketetapan MPR RI No. XI/MPR/1998 Pasal 4 yang berbunyi, “Upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak asasi manusia” dan Tap MPR RI No.I/MPR/2003. Anehnya, Amien Rais, pun ikut plin-plan dan mengingkari produk MPR yang lahir ketika ia memimpin MPR. Sebaiknya Amien Rais menutup mulut saja nampaknya, daripada merusak ikut-ikutan merusak tatanan hukum dan demOkrasi.
Karena bila menghapuskan semua perkara pidana dan perdata Soeharto dan rezim totaliter Orde Baru (Orba) berarti Soeharto, keluarga, kroni korupsi, pelanggar HAM berat lainnya bebas tanpa hukuman. Berarti keadilan dan hukum ikut mati bersama Soeharto

Kejahatan HAM Berat
Mengapa Soeharto, keluarga, kroni korupsi, dan pelanggar HAM, para loyalis Orba, tidak dapat dibebaskan dari hukuman? Karena rezim totaliter Orba dibangun diatas dua fondasi musuh utama demokrasi. Pertama, kejahatan HAM Berat atau kejahatan terhadap kemanusiaan; Kedua, kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kejahatan HAM Berat atau kejahatan terhadap kemanusiaan tak dapat dihapuskan di luar pengadilan, kedaluwarsa ataupun pelakunya bebas tanpa hukuman. Semua kasus sepanjang 32 tahun Orba seperti Pembunuhan Masal 1965, Penembakan Misterius, Kerusuhan 13-14 Mei, Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh, Talang Sari, Tanjung Priok, Kasus 27 Juli, Penjajahan dan Gemosida Timor Timur, Trisakti 12 Mei 1998, Papua, dan lainnya harus berlanjut, walaupun Soeharto meninggal dunia. Mengapa?

Beragam contoh sejarah mendukung pendapat ini, lihat saja misalnya ketika The Big Brothers Pol Pot mati, Kamboja sejak 13 November 2007 melaksanakan Polpot’s Trial dengan menangkap pemimpin Khmer Merah, Khieu Samphan (Presiden Khmer Merah), Kaing Guek Eav alias Duch (komandan penjara penyiksaan Tuol Sleng), Nuon Chea, Ieng Sary (menteri luarnegeri), Ieng Thirith. Kelimanya dituduh melakukan kejahatan kemanusiaan yang membunuh 1,7 juta rakyat Kamboja melalui penyiksaan, eksekusi, kelaparan, kerja paksa sepanjang 1975-1979. Begitu pula di Jerman setelah Perdang Dunia II yang menelan 6 juta jiwa Yahudi dan 60 juta orang lainnya, Nuremberg Trial tetap digear, walaupun Hitler sudah mati. Pengadilan kejahatan kemanusiaan tetap dilakukan atas 24 pemimpin utama Nazi seperti: Martin Bormann, Hans Frank, Herman Goring, Rudolf Hess dan lainnya. Bahkan Adolf Eichmann sang arsitek Holocaust, ditamgkap di tempat persembunyiannya di Argentina, lalu diadili di Tel Aviv, Israel dan dihukum gantung pada 31 Mei 1962.

Kejahatan KKN
Kasus korupsi, kolusi dan nepotisme Soeharto, keluarga dan kroninya, juga tak bisa dan tak boleh dihentikan (seandainya) Soeharto meninggal dunia. Jaksa Agung mendukung dengan tindakan sangat terbatas, dan dengan keseriusan setengah hati, Hendarman hanya menggugat perdata yayasan Soeharto sekitar Rp.11,5 Triliun di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Padahal Soeharto menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam program Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative adalah pemimpin politik terkorup di dunia dengan “harta korupsi” sekitar 15 miliar-35 miliar dolar AS, yang dikelola oleh Soeharto Inc. sekarang (lihat www.soehartoincbuster.org). Adapun 10 besar koruptor terbesar di dunia menurut PBB adalahSoeharto (Indonesia) : US$15-35 miliar, Ferdinand E. Marcos (Filipina) : US$5-10 miliar, Mobutu Sese Seko (Kongo): US$5 miliar, Sani Abacha (Nigeria), Slobodan Milosevic (Serbia), Jean-Claude Duvalier (Haiti), Alberto Fujimori (Peru), Pavlo Lazarenko (Ukraina), Arnoldo Aleman (Nikaragua), Josep Estrada (Filipina).

Marcos sudah diburu harta jarahannya oleh Presidential Commision on Good Government (PCGG) dan disita sekitar sepertiga dari 10 miliar dolar AS. Alberto Fujimori ditangkap di Cile, diekstradisi ke Peru, sekarang masih diadili dengan kemungkinan hukuman 30 tahun. Sedangkan Joseph Estrada, ditahan di penjara, dihukum seumur hidup, dan diampuni presiden Filipina Arroyo, tetapi sejumlah hartanya disita. Gilanya, koruptor nomor satu di dunia, Soeharto, tak pernah ditahan, diadili, dan satu rupiah pun hartanya tak pernah disita. Bahkan bertambah Rp.1 triliun, karena Mahkamah Agung memenangkan perkara gugatannya terhadap majalah Time. Soeharto dan keluarga tentu saja sangat berbahagia, dapat uang, dan bersih namanya dari kemungkinan disebut sebagai koruptor sebagaimana yang ditulis Time.
Lucunya SBY pernah berjanji akan meminta keterangan kepada Presiden Bank Dunia Robert Zoellick pada Sidang Umum PBB 22-26 September di New York. Hasilnya nol besar, karena tak ada pembicaraan dan program SBY untuk menindaklanjuti StAR Intiative PBB. SBY hanya menebar janji tanpa bukti, karena niat utamanya ternyata agar semua kasus Soeharto selesai di luar pengadilan. Ternyata, SBY tetaplah presiden pelindung Soeharto, bukan pelindung rakyatnya.

Kasus mutakhir dari Cile, pemerintahan Michel Bachelet pada 4 Oktober 2007, menangkap isteri Jenderal (purn) Augusto Pinochet, Lucia Hiriart (84) dan lima anaknya: Augusto, Lucia, Marco Antonio, Jaqueline dan Veronica serta satu pengacara dan tiga pensiunan jenderal - Jorge Ballerino, Guillermo Garin and Hector Letelier - juga 13 pengikut utama Pinochet untuk kejahatan korupsi Pinochet (1973-1990) sebesar 27 juta dolar AS saja. Para pencari keadilan sepanjang Pinochet berkuasa 11 September 1973-11 September 1990, berada dalam ketidakpastian hukum yang sama seperti di Indonesia hari ini. Berlanjut hingga Presiden Patricio Aylwin (1990-1994), Eduardo Frei Ruiz-Tagle (1994-2000), dan Ricardo Froilán Lagos Escobar (2000-2006). Tiga presiden Cile tak berdaya terhadap Pinochet, keluarga dan kroni, sebelum. Lalu datang Michel Bachelet dan bertindak tegas.

Akhir kata
Pol Pot dan Hitler mati, tetapi pengadilan HAM berat atau kejahatan kemanusiaan tetap dilaksanakan. Tak ada impunitas terhadap pengikut Polt Pot dan Hitler. Pinochet juga mati, tetapi pengadilan korupsi tetap berjalan dengan menangkap isteri dan lima anak Pinochet. Kejahatan HAM berat, kejahatan terhadap umat manusia sepanjang 32 tahun rezim totaliter Soeharto-Orba juga tidak dapat dihentikan, kedaluwarsa, apalagi diselesaikan di luar pengadilan seperti tawaran SBY. Hukum dan keadilan tak boleh diistimewakan kepada seseorang siapapun, apalagi seorang dictator kejam dan barbar seperti Jenderal Besar (purn,) Soeharto.

Politik impunitas kroni Soeharto, pendukung utama Orba, adalah upaya cuci tangan atas partisipasi dan loyalitas penuh sepanjang 32 tahun rezim totaliter Orde Baru. Juga menyesatkan, karena menimpakan semua kesalahan Orba hanya pada Soeharto seorang diri, seolah-olah mengatakan, “penjahat Orba satu-satunya adalah Soeharto!”. Pengalaman Jerman, Filipina, Kamboja dan Cile, membuat kita tak perlu putus asa, walaupun sudah 10 tahun reformasi dengan empat presiden tak mampu mengusut Soeharto, keluarga dan kroninya. Kunci keberhasilannya, Pertama, kepemimpinan nasional baru yang tidak terkait atau berhutangbudi secara politik dan ekonomi terhadap rezim Soeharto-Orba, jadi tak mungkin berhasil di tangan pemimpin tua seperti SBY, JK, Gus Dur, Megawati, Wiranto, Amien Rais dan segenerasinya, karena itu ucapkan selamat tinggal pada generasi pertama kepemimpinan nasional pascareformasi; Kedua, kesabaran revolusioner, penumbuhan harapan baru, mengumpulkan data dan informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang semua kejahatan HAM dan korupsi Soeharto, keluarga, kroni dan pelanggar HAM, serta melanjutkan perjuangan bersama pencari keadilan dan demokrasi. Berpihak pada korban untuk melawan dan mengadili Soeharto, keluarga dan kroni korupsi dan pelanggar HAM.

Apa yang harus dilakukan? (1) publik serentak di seluruh Indonesia menolak penghapusan maupun penyelesaian di luar pengadilan semua kasus perdata dan pidana Soeharto-Orba yang berkaitan dengan KKN dan kejahatan HAM; (2) mendesak keras Jaksa Agung sekarang juga menyelidiki, menyidik, dan mengadili semua pelaku kejahatan kemanusiaan dan korupsi sepanjang 32 tahun Orba, selain Soeharto, bila tidak maka publik akan menyimpulkan kepura-puraan dan upaya untuk melepaskan mereka semua dari jeratan hukum; (3) meyakinkan semua pihak bahwa pengadilan kejahatan kemanusiaan dan korupsi Soeharto-Orba tidak boleh berhenti sampai kapanpun, hingga semua pelaku diadili dan dipenjarakan, serta harta korupsinya disita negara. Jadi setiap upaya untuk menghentikan semua perkara Soeharto-Orba akan dicabut suatu hari nanti seperti Michel Bachelet menyelesaikan perkara Pinochet, keluarga, kroni dan para jenderalnya. Hari ini SBY melindungi atasannya dengan berbagai cara, maka tindakan tersebut tetap salah dan akan dibuka lagi suatu hari nanti, ketika kekuatan politik dan ekonomi pendukung dan loyalis Soeharto bisa ditaklukkan publik.

Keadilan dan hukum harus diperjuangkan bersama, bila keadilan hilang dan lenyap dari muka bumi Indonesia, maka setiap hari manusia Indonesia yang tak bersalah diculik, disiksa, dipenjarakan, dilenyapkan, dan dibunuh, lalu harta rakyat pun dijarah. Itulah yang dilakukan sang diktator, Jenderal Besar (purn.) bersama pengikutnya para loyalis Orba sepanjang 32 tahun. Maaf secara pribadi boleh, tetapi hukum dan pengadilan tetap jalan terus, sampai kapanpun.


*credit goes to the original writer (M.Fadjroel Rachman)


Blog EntryWe're Gonna Miss HimJan 27, '08 3:05 AM
for everyone
Covered by warm smile
The vampire got his justification
The people love him
But many more curse him


Parents lost their children
Children lost their parents
Brothers lost their sisters
Sisters lost their brother

The story is not finished yet, my fellow brothers and sisters
We're all waiting
Waiting for fair moments
Counting the days


He died
But we can still expect for the judgement
He died
But we can still ask for the money

Will he be burnt in hell for all those he made?
Will he suffer for all those cruel acts he commited?
Will he be tortured for all blood he splashed?
Will he scream in agony for all the souls he took away?

One thing for sure we expect
One point for sure we hope
One thing for sure we await
The money is that what we need

We're gonna miss him
The sweet-faced blood sucking vampire
Soeharto
It is the name

What's the very first thing to do when you decide to play diatonic harmonica (A.K.A blues harmonica)? Buy a NEW one! Yes, a new one! DO NOT ever buy a used or borrow your friends. Why? Because, same with any other wind instruments, they have great risks in spreading diseases. Many diseases are transmitted by saliva (e.g. Hepatitis B). You don't want to get caught by one of them, do you?

After you buy a new one, be sure not to lend it to ANYONE! If a friend wants to borrow yours, tell him to look for one in music stores, instead of blowing and drawing yours.

What're the Good Brands?
Some manufacturers are well known for consistently building good harmonicas. To name a few, there are Hohner, Suzuki, and Lee Oskar. There are other brands that earn positive marks such as Seydel and Hering, but I haven't got time to personally use and review them.

What Particular Type of Harmonica?
Of course diatonic harmonica! I don't play chromatic harmonica! Hohner has a line of diatonic harmonica. According to my personal review, the top lines are Hohner Marine Band Deluxe, Hohner Special 20, and Hohner Marine Band. From Suzuki, they are Suzuki Promaster, Suzuki Promaster Valved, Suzuki Bluesmaster, and Suzuki Harpmaster. Lee Oskar has Lee Oskar Major Diatonic.

Based on my personal hunting, be aware that in Indonesia you can only get Hohner Blues Harp, Suzuki Bluesmaster, Suzuki Harpmaster, Hohner Pro Harp, and Hohner Marine Band (the last two are very hard to find), due to the fact that diatonic harmonica is not a very popular instrument.


Now, enjoy your hunting! I'll regularly post new topics.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help