The Blues is Like Salt. There's a Little Bit of It in Everything -- Even Ice Cream

Rangga's posts with tag: short story

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag short story
Blog EntryKuntum-kuntum Bunga KertasFeb 7, '08 10:21 AM
for everyone

Seperangkat komputer Macintosh menyala di pagi hari yang dingin di apartemen Damian. Seperti biasa, Damian tak pernah mematikan komputer pada malam hari. Dia membutuhkan sedikit suara untuk menemaninya tidur. Sebenarnya bisa saja dia menyalakan televisi atau radio, tapi dia lebih suka ditemani suara komputer yang jelas-jelas tak bernada itu. Gerungan sayup-sayup yang ditimbulkan mesin komputernya membuat dia merasa tenang untuk tidur setiap malamnya. Bagi Damian, suara perbincangan orang dan rangkaian nada musik yang mengalun dari televisi atau radio saat dia ingin tertidur tidak lebih bagaikan suara petasan yang menyala-nyala tepat di depan telinganya, benar-benar mengganggu!

Minggu pagi ini tampak sedikit berbeda. Mata Damian sudah terbuka pada pukul tujuh, alih-alih dia tetap tertidur pulas hingga pukul sebelas siang. Terlebih lagi disaat musim dingin seperti sekarang, seharian bermalas-malasan di atas tempat tidur merupakan kegiatan yang menyenangkan. Tak lama bagi Damian untuk terjaga sepenuhnya, hanya butuh beberapa kejapan mata yang pelan, sedikit garukan pada kepala yang rambut panjangnya tak pernah mengenal sisir itu, serta serangkaian stretching. Hop! Dua detik kemudian dia sudah terduduk di pinggir kasur berukuran king size itu. Hingga empat puluh lima detik kemudian dia belum melakukan apa-apa. Bukan karena merasakan kantuk kembali, tetapi lebih karena dia tampak sedikit kebingungan, apa yang dia mesti lakukan pertama kali.

Semua orang tahu jika Damian seorang yang well organized. Semua kegiatannya sangat tersusun rapi dan dia tidak pernah telat disaat mempunyai janji pertemuan. Itulah salah satu faktor mengapa Damian banyak disukai dan dikagumi orang-orang di sekelilingnya. Menjadi seorang yang well organized sangat membantu Damian dalam menjalani kuliah doktoralnya di Stanford University, selain juga karena tingkat intelegensia Damian yang mengagumkan.

Tak lama setelah Damian beranjak bangun dari tempat tidurnya, dia berjalan pelan menuju keran penyucian piring, memutarnya, menampung sedikit air dalam tangkupan telapak tangannya, menyiramkan ke wajahnya, lalu mengambil gelas. Dia isikan air hingga meluber keluar, kemudian menenggaknya hingga habis dalam dua kali tegukan saja. “Aahhh!” begitu Damian mengekspresikan kelegaannya. Semalaman tidur membuat kering tenggorokannya. Dia letakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja makan dengan sedikit hentakan keras, membuat Rexotic, kucing Cornish Rex kesayangannya, terkaget dan menggoyangkan kepalanya, seakan menyangka bahwa Damian ingin mengajaknya bermain.

Semalam Damian baru pulang pada pukul dua dengan kemeja yang tidak terkancing, membuat kaus oblongnya yang bertuliskan Being a Communist Means Being Exiledboxer short ke atas kasur lalu tertidur pulas. Tak heran jika sekarang Damian merasakan hang over dan itu juga sebuah penjelasan mengapa dia lalu terduduk di kursi makan sembari memijat-mijat kepalanya. dengan huruf merah darah jelas terlihat. Pada malam itu alkohol menyengat saraf-saraf otak Damian sedemikian hebatnya, membuat dia segera menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tanpa banyak basa-basi lagi Damian langsung melemparkan tubuhnya yang hanya berbalutkan secarik

Terlalu banyak yang mesti Damian lakukan hari ini, hingga pusing dan sakit kepala yang sedang menyerang tak lagi dihiraukannya. Pancaran lampu dari kulkas yang terbuka membuat ruangan dapur sedikit lebih terang disaat Damian mengambil bungkusan daging sapi asap untuk kemudian mengambil tiga iris tebal. Setelah itu barulah Damian menyalakan lampu dapur, karena dia kesulitan mencari tempat mentega. Setelah memanaskan penggorengan dan memasukkan dua sendok mentega, dia lemparkan tiga iris tebal daging sapi asap itu. Sembari menunggu salah satu sisi irisan-irisan itu cukup matang, Damian mengambil sebatang rokok kretek buatan Indonesia untuk dinyalakannya. Isapan yang kuat mengisi penuh paru-paru Damian, dan dengan satu hembusan keras, segumpal asap pekat keluar dari mulut dan lubang hidungnya.

Lima menit kemudian Damian sudah terduduk santai di kursi makannya. Perlahan dia kunyah irisan itu, matanya menatap langit-langit, menerka apa porsi itu sudah cukup untuk bisa membuatnya kenyang. Piring besar yang ada di depan Damian itu penuh sesak oleh irisan daging asap, segenggam kentang goreng yang diberi garam, serta sembilan iris tomat segar. Lama kelamaan Damian mempercepat kunyahannya, setelah dia merasa porsi pagi hari ini cukuplah untuk mengisi rongga kosong di ususnya.

Tak terasa sudah pukul delapan, Rexotic sudah mengusap-ngusapkan kepalanya pada pangkal kaki Damian, dan suara anak-anak kecil yang sedang bermain lempar bola salju sudah terdengar dari halaman parkir luar. Damian sudah menghabiskan rokok ketiganya, sedangkan bir sudah hampir habis ditenggaknya dari kaleng. Dia mesti bergegas mempersiapkan diri, karena pada pukul sepuluh pagi dia mesti menemui Dr. William, psikolog langganannya sejak 5 tahun lalu.

+++++++++

Suatu malam di musim dingin sepuluh tahun yang lalu, semuanya terasa sangat indah. Hawa dingin yang menyengat tulang tidak dapat membendung kegairahan hati yang dirasakan Heidi. Malam itu pertama kalinya Heidi akan bertemu seseorang sebagai sepasang kekasih.


Senyuman tipis tergambar di wajah Heidi tatkala dia mendengar langkah-langkah mendekati halaman depan rumahnya. Sudah berkali-kali dia melirik jam dinding, berharap waktu segera pukul delapan malam.

Heidi tinggal sendirian di situ. Tidak begitu besar ukurannya, tetapi sirkulasi udaranya sangat baik. Rumah itu mempunyai tiga buah kamar, yang karena dia tinggal sendirian, maka dua kamar sisanya hanya dipenuhi oleh tumpukan buku dan sejumlah bingkai foto yang dicampakkan begitu saja di lantainya. Kesan berantakan dan penuh debu yang tergambar dari kedua kamar itu langsung pupus jika mengetahui gambaran kamar tidur Heidi. Sungguh sebuah ruangan yang terjaga kebersihan dan keindahannya, sesuai dengan kecantikan paras pemiliknya.

Sebuah tempat tidur berukuran besar berlapiskan
bed cover biru, dengan dua buah meja kecil pada kedua sampingnya, terletak pada sudut kanan kamarnya. Dua buah lampu kecil berwarna perak menghiasi meja-meja itu, sedangkan beragam majalah memenuhi laci salah satu mejanya, dengan banyak bungkusan obat dan setumpuk kertas pada laci meja yang lainnya. Kamar itu selalu berbau harum, karena Heidi menyemprotkan pengharum ruangan setiap harinya. Terlebih lagi disaat malam hari, Heidi tak lupa menyalakan dupa pewangi. Bukan hanya membuat kamarnya tambah wangi, tetapi juga dia percaya bahwa dupa pewangi itu dapat membuatnya tidur dengan lelap. Selain tempat tidur besar yang mahal itu, kamar itu berisikan juga tiga buah lemari baju, sebuah meja rias, tiga bingkai lukisan, dan juga kamar mandi dengan shower dan bathtub sebagai pilihan.      

Disamping tiga buah kamar dan dua kamar mandi di bagian atas rumah, di bagian bawah terletak dapur yang selalu terjaga kebersihannya, ruang keluarga, juga ruang kerja yang dipenuhi tumpukan buku dan seperangkat komputer berteknologi terbaru. Secara keseluruhan rumah itu tidak begitu besar dan berkesan mahal, tetapi Heidi dengan sukses telah menciptakan aura keindahan dan kebersihan. Di saat dia sibuk dengan kuliahnya, dua orang sewaan yang dengan telaten akan membersihkan keseluruhan bagian rumahnya.

Tiga ketukan terdengar dari pintu depan rumahnya. Heidi yang sudah menunggu tepat di depan pintu tak lama semenjak tadi dia mendengar langkah-langkah kaki di halaman rumahnya, segera saja dengan bersemangat membuka pintunya. “Hai!” Terlihat sesosok pria yang dengan canggungnya berdiri dihadapannya. Tangan kanannya menggaruk-garuk kepalanya dan tangan kiri disembunyikannya dibelakang bagian tubuhnya.

Sebagian orang akan heran bila mengetahui bahwa Heidi berpacaran dengan lelaki itu. Tak perlu diragukan jika Heidi sangat cantik. Kulitnya begitu putih mulus, hidungnya mancung, bibir tipis berwarna merah jambu yang terlihat menggoda, dadanya padat berisi dengan ukuran yang proporsional, sedangkan rambutnya berpotongan pendek seksi sepanjang leher. Heidi terlihat lebih cocok jika mempunyai pacar seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berotot dan berambut serta berpakaian rapi, dibandingkan dengan lelaki yang saat itu sedang berdiri di hadapannya. Rambut lelaki itu panjang tak keruan, terlihat sekali jika sisir tak pernah menjamah rambutnya. Celana jeans kusam dengan jahitan yang memenuhi bagian kedua lututnya, serta sweater tebal yang menutupi kaus oblong putih polos kumal semakin mempertegas penilaian bahwa lelaki itu tidak peduli sama sekali terhadap penampilan luarnya.         

Alis Heidi terangkat, senyuman terlihat lagi di bibirnya, dan tangannya meraih pundak lelaki itu. Seketika itu juga lelaki itu berhenti menggaruk rambutnya, dan sebagai gantinya dia masukkan tangannya ke dalam kantung celananya. “A..aku lima belas menit telat. Pemanas rumah rusak, aku mesti memperbaikinya dahulu. Jika tidak begitu, kucingku akan kedinginan malam ini.” Heidi tidak menjawab, dia malah menarik pundak lelaki itu dan dengan sedikit dorongan dia arahkan lelaki itu ke dalam rumah. “Di luar dingin sekali, lebih baik kau masuk dulu.” Dengan perlahan lelaki itu melangkah menuju ruang keluarga, kesan kikuk masih saja ditunjukkannya, terlihat dari bibirnya yang dia gigiti dan garukan pada kepala yang dilakukannya lagi. Lelaki itu celingukan menoleh ke arah kanan dan kiri, seolah bingung hendak duduk dimana, padahal sofa empuk tepat berada di depannya.

Heidi lagi-lagi tersenyum melihat tingkah polah lelaki itu, tetapi dia tidak berusaha mencairkan suasana. Langsung saja dia melangkah menuju dapur untuk membuat dua mug coklat panas, sementara lelaki itu malah menghembus lega melihat Heidi menghilang ke luar ruangan. Ada waktu untuk menghilangkan ketegangan, begitu pikirnya.

Tak lama, Heidi sudah kembali ke ruang keluarga. Dia letakkan mug-mug itu di atas meja, lalu dia terduduk disampingnya. Muka lelaki itu tertunduk, mulutnya sedikit terbuka, dan dengan pelan dia berkata, “Aku masih tidak percaya, kau sekarang kekasihku. A..a..aku...ba..baha..bahagia sekali.” Jemari lentik Heidi diusapkannya pada pipi lelaki itu, “Damian, aku cinta kamu!” dengan lembut dia bisikkan kata-kata itu di telinga Damian.

Tangan kiri Damian yang sedari tadi selalu disembunyikannya di belakang tubuhnya kini perlahan dia gerakkan ke bagian depan tubuhnya. “Ini untukmu,” ujarnya sambil menunjukkan sekuntum bunga yang terbuat dari kertas berwarna merah dan juga harum seperti bunga aslinya. “Aku sengaja membuatnya untukmu”. “Kau belajar dari mana membuat bunga seperti ini, Damian? Kursus origami?” ujar Heidi sembari tersenyum. Tatapan matanya tertuju kepada Damian, membuat Damian tersenyum juga. Dia senang Heidi menyukai pemberiannya, darahnya seakan mengalir lebih cepat dalam urat-uratnya, jantungnya berdegup lebih kencang. Ingin sekali Damian mencium bibir Heidi. “Tidak, ini belum saatnya! Ini baru kencan pertama, Damian!” dia berkata dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian Damian menengadahkan mukanya, dilihatnya muka Heidi yang sudah bersemu merah, “Aku hanya mengikuti instruksi dalam buku tentang origami.” Heidi pun tertawa mendengar penjelasan itu dan Damian ikut tertawa pula. Rupanya suasana malam itu sudah mulai cair.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Coklat panas sudah tidak tersisa setetes pun dan tampaknya mereka berdua sudah kehabisan ide untuk mengobrol. “Lebih baik aku pulang sekarang. Kucingku pasti kesepian. Kita bertemu besok di kampus”. Damian beranjak dari sofa dan diikuti oleh Heidi. “Aku senang kau mau datang ke tempatku malam ini. Besok aku tunggu di taman kampus jam satu. Mau kan menemaniku makan siang?” Tidak mungkin Damian menolak ajakan itu. Bangga sekali apabila teman-temannya tahu bahwa Heidi kini telah menjadi pacarnya. Pastilah banyak yang akan cemburu, selain juga banyak yang tidak akan percaya.

Sudah dua minggu Damian dan Heidi berpacaran. Teman-teman mereka masih saja ada yang tidak percaya bahwa Damian bisa mendapatkan hati Heidi. Tetapi cinta memang tak bermata, cinta memilih tanpa alur yang jelas. Cinta seringkali hadir dengan penjelasan irasional.

Bagaimana pun Damian dan Heidi merupakan sepasang yang cocok. Terlihat sekali bahwa cinta mengisi relung-relung diantara mereka. Tak diragukan lagi bahwa Damian dan Heidi saling mencinta sepenuh hatinya.

“Hey, sedang apa? Rupanya tugas akhir masih saja membuatmu sibuk ya?” Damian berkata sambil mendekati Heidi yang sedang tenggelam dalam tumpukan buku di satu meja perpustakaan. “Nanti malam aku mau mengajakmu makan. Pilih sushi atau makanan Italia?” “Apapun lah, asal kau disampingku pasti aku mau!” balas Heidi sambil tetap saja konsentrasinya tertuju pada buku-buku itu. “Well then, see you later!”

Malam itu mereka mengisi perutnya di Bellucci’s Restaurant yang terletak di Thirteenth Avenue. Damian memilih menu Beef Cordon Bleu, sedangkan Heidi cukup sepiring kecil Spaghetti Carbonara. Dua gelas anggur menemani mereka, terdengar pula sayup-sayup Rondo Alla Turca-nya Mozart dari pengeras suara yang ada di dinding restoran itu.

Restoran itu termasuk kelas atas, setidaknya terlihat dari aturan yang mengharuskan para pengunjungnya untuk mengenakan jas. Damian sendiri mengenakan jas hitam dengan kemeja biru tua, dasi berwarna merah hati, dengan celana hitam dan juga sepatu hitam mengkilat. Sedangkan Heidi terlihat seksi sekali. Gaun putih yang dikenakannya tampak sangat indah, belahan pada bagian depan yang memperlihatkan sedikit bagian atas dadanya membuat dia terlihat jauh lebih sensual lagi.

Dua tegukan anggur membasahi kerongkongan Damian sebelum dia mulai berbicara. “Cepatlah lulus kuliah, aku ingin menikah denganmu. Aku ingin menikah denganmu secepatnya. Sudah tiga tahun kita berpacaran. Hingga kapan lagi kita hidup terpisah seperti ini? Kau selalu menolak ajakanku, dengan alasan kau ingin konsentrasi dahulu pada kuliahmu. Aku mencintaimu, Heidi. Aku menunggumu!”

Selama tiga tahun mereka berpacaran, tak pernah sekalipun mereka bertengkar hebat selama berhari-hari. Kalau pun mereka “berperang”, dalam satu atau dua jam sudah berbaikan lagi. Damian orang yang lembut, dia sangat romantis. Dia tak pernah berbuat kasar secara fisik terhadap Heidi, apapun alasannya. Dia tak tega apabila tubuh mulus Heidi tergores olehnya. Singkat kata, Damian merasa bahwa Heidi merupakan orang yang cocok untuk mendampinginya hingga maut menjemput nanti.

Satu tahun semenjak mereka mulai berpacaran, Damian mulai berkeinginan untuk menikahi Heidi. Walaupun mereka berdua berada ditengah budaya Amerika, itu tidak lantas membuat Damian mengajak Heidi untuk tinggal bersamanya. Damian berpikir, jika memang merasa cocok langsung saja menikah, tak perlu ada istilah tinggal serumah dengan alasan trial marriage.

Damian mulai tinggal di Amerika selepas menamatkan pendidikan menengah atas di Indonesia, negara asalnya. Heidi, walaupun juga berdarah Indonesia, tetapi lahir di Amerika. Keluarganya sudah tinggal di sana selama tiga generasi, bermula dari neneknya yang dinikahi oleh seorang pengusaha Amerika yang lalu mengajaknya untuk pindah ke Amerika. Dengan begitu Ibu Heidi berdarah campuran Indonesia – Amerika, sedangkan ayahnya sendiri orang Indonesia asli yang mengungsi ke Amerika selepas awal keruntuhan orde lama. Beliau percaya bahwa keruntuhan Soekarno berarti juga kemeranaan Indonesia secara absolut.

Damian bertemu Heidi bermula dari acara yang diadakan Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) di suatu hari yang cerah di taman pinggiran kota Miami. Terus terang saja, alasan yang diutarakan Damian bahwa dia berkenalan dengan Heidi karena Damian ingin tahu orang Indonesia yang telah lama tinggal disana tidaklah sepenuhnya benar. Kecantikan Heidi lah yang menggaet perhatian Damian waktu itu.

Belum saja Heidi merespon perkataannya, Damian sudah mengeluarkan sekuntum bunga kertas warna merah dari kantung jasnya. “Kita sudah berhubungan selama tiga tahun, berarti sudah tiga puluh enam buah bunga yang kuberikan. Banyaknya bunga yang kuberikan selama ini kepadamu merupakan pengingat waktu bahwa kita sudah berjalan bersama sekian lama.” Heidi benar-benar terharu mendengar kata-kata itu. Bulir-bulir kecil membasahi pipinya. Mereka lalu berciuman dengan mesra. “Aku mau menikah denganmu. Beri aku waktu tiga bulan lagi ya. Sebentar lagi aku lulus, dan aku berjanji sisa hidupku nanti hanya kuberikan kepadamu.”

Seminggu sudah sejak pertemuan terakhir kali di restoran itu. Damian belum juga bisa menemui Heidi kembali. Dia sudah rindu, ingin memeluk dan mengecup lembut bibirnya lagi. Damian ingin melepas penat dengan mengobrol dengan Heidi, tertawa, melihat daun berguguran, dan merasakan hembusan lembut angin semilir disaat mereka sedang berbaring di taman kampus tempat mereka biasa menghabiskan waktu siang.

Segala macam cara Damian lakukan untuk menemui Heidi. Ini tidak biasa, pikirnya. Rumah Heidi selalu kosong. Bahkan suatu hari, Damian menunggu Heidi pulang semalaman, tetapi dia tak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Telepon selulernya selalu tidak aktif, teman-teman sekelas Heidi pun tidak tahu dia kemana. Menurut mereka, Heidi hanya berkata hendak berlibur beberapa hari ke rumah orang tuanya di Seattle. Damian telah menelepon orang tua Heidi, tapi mereka berkata bahwa Heidi tidak ada disana.

Cemas mulai merasuki pikiran Damian. Dia mulai kelimpungan memikirkan hal ini. Tidak tahu lagi mesti kemana dia mencari Heidi. Di siang hari, yang hanya bisa dia lakukan kemudian hanyalah terduduk di taman kampus, berharap Heidi datang tiba-tiba. Sore harinya dia pulang ke apartemen, mandi, makan malam, berganti pakaian, lalu memacu mobilnya ke arah rumah Heidi. Dipandanginya pintu rumah Heidi dari dalam mobilnya, terus begitu hingga dia tertidur karena sudah tidak tahan menahan kantuknya.

Selama tiga hari kemudian kegiatan itu Damian lakukan setiap hari. Untung saja Damian sudah lulus kuliah dan belum punya pekerjaan, sehingga kegiatan itu tidak mengganggu jadwal lainnya.

Akhirnya setelah berhari-hari tidak membuahkan hasil, Damian mulai menyerah. Damian mulai berpikir bahwa Heidi sedang sangat marah kepadanya, hingga menemuinya saja tidak mau. Biarlah, dia pikir lambat laun Heidi pasti akan menghubunginya juga. Bagaimanapun Heidi sangat mencintai Damian.

Sebagai penghilang rasa cemas, kaleng dan botol bir mulai rutin menemani hari-hari Damian. Sebelumnya hanya sesekali saja dia minum bir, misalnya diwaktu pagi hari minggu setelah jogging dan disaat malam hari sembari merokok dan menonton siaran televisi kabel kegemarannya. Kini, paling tidak 5 kaleng bir dan 2 botol kecil bir ditenggak setiap harinya. Tetapi dia tidak pernah mabuk karenanya. Hanya minuman spirits yang dapat membuatnya terkapar.

Tiba-tiba saja setelah sekitar satu bulan Heidi menghilang tanpa kabar, pada suatu pagi telepon seluler Damian berdering. Dengan malas tangan Damian meraba-raba bagian atas bantalnya, mencari asal suara bising itu. Pagi itu baru pukul enam, tetapi telepon sudah berdering lagi. Tidak biasanya Damian sudah terganggu sepagi itu, kecuali disaat Heidi datang ke apartemennya untuk membangunkannya dengan pelukan hangat dan kecupan kecil di keningnya.

Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Damian langsung saja mengangkat telepon itu. Matanya masih terpejam erat, belum bisa dia buka sedikit pun. “Damian, temui aku tiga puluh menit lagi di rumah”. Damian terhentak kaget. Dia terbangun dari tidurnya seketika. Matanya sontak terbuka, dan tubuhnya langsung terduduk di pinggir tempat tidurnya. “Heidi, dari mana saja kamu?” Tetapi sambungan telepon sudah terputus, Heidi tidak ingin berbicara banyak di telepon.

Damian dengan tergesa-gesa memasuki kamar mandi. Dia mandi dan sikat gigi sekenanya, lalu berganti pakaian. Tak lupa dia beri makan dulu Rexotic, kucing kesayangannya. “Makan yang banyak!” ujarnya pada kucing itu.

Belum lagi tiga puluh menit Damian sudah mengetuk pintu rumah Heidi. Banyak sekali pertanyaan memenuhi otak Damian saat itu. Ingin sekali dia menginterogasi Heidi dengan daftar pertanyaan yang dia siapkan di pikirannya. “Masuklah Damian, aku akan buatkan kopi dan sandwich”. Sesaat Damian lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang hendak diajukannya, karena sandwich dan kopi sudah terbayang di pikirannya. Nikmat sekali rasanya di pagi hari menatap wajah cantik Heidi dengan ditemani segepok sandwich dan kopi.

Rupanya bayangan kenikmatan sandwich dan kopi tidak lama bertahan di otak Damian. Baru saja Heidi datang memberikan sandwich dan kopi, tetapi itu tidak dihiraukan Damian. Diletakkannya begitu saja sandwich dan kopi itu di meja dapur, dan Damian langsung memeluk kencang Heidi. Dirasakannya agak sedikit berbeda pelukan Heidi pada saat itu, tidak sehangat biasanya. “Kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu kemana-mana. Aku kangen! Aku cinta kamu!” Tanpa disangka, Heidi malah melepaskan pelukan Damian, lalu dia berkata, “Ada sesuatu yang mesti aku bicarakan sekarang...”

Suasana dapur rumah Heidi terasa dingin sekali karena mereka berdua terduduk tanpa berkata apapun selama lima menit. Lalu Heidi mulai berujar, “Aku sangat mencintaimu, Damian. Lebih dari apapun di dunia ini. Sebulan terakhir aku menghilang karena aku mesti memikirkan sesuatu dengan sangat serius.”

Heidi meletakkan telunjuk kanannya pada bibir Damian, “Biarkan aku menyelesaikan dahulu kalimatku”, ujarnya. “Aku pikir ini saatnya kita berpisah, Damian.” Seketika itu juga langit-langit dapur seakan runtuh menimpa kepala Damian. “Apa maksudmu?! Kita sebentar lagi akan menikah!” Tetapi Heidi hanya menundukkan kepalanya. Tetesan air mata terlihat mulai membasahi pahanya. “Sungguh Damian, tak terbayangkan bila kita menikah. Kau tahu kehidupan di Amerika itu sungguh berat. Biaya hidup disini jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Aku tak bisa mempertaruhkan hidupku kepadamu. Kau hanyalah seorang pengangguran. Sudah setahun kau lulus kuliah, tetapi hingga saat ini kau belum juga bekerja.” Heidi berhenti sebentar untuk menghapus air matanya yang sudah menetes deras. “Bagaimana bisa kita menikah dengan keadaan kamu yang seperti ini. Bagaimana pun aku butuh seorang lelaki yang mapan secara finansial. Dua bulan lagi aku lulus kuliah, aku harap kau jangan lagi menemuiku. Tak lama setelah lulus, aku akan pindah ke Inggris untuk mengambil kuliah pasca sarjana.” Mulut Damian menganga dan bergetar, tangannya tercengkeram dengan erat, matanya sudah berkaca-kaca, hatinya bagai menerima tusukan beribu jarum kecil. Tidak disangkanya pertemuan setelah perpisahan selama satu bulan itu akan menjadi malapetaka besar yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

Heidi beranjak dari tempat duduknya, lalu dia membalikkan badannya. Dia tidak mau lagi melihat Damian. “Pulanglah Damian, jangan temui aku lagi. Hadapi kenyataan, ini sudah berakhir untuk selamanya.” Damian tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Dia mendekati Heidi, tetapi dia malah semakin menyingkir. Rupanya cinta sudah benar-benar terhapus dalam diri Heidi.
+++++++++

Barisan mobil dan motor terjejer rapi di basement apartemen itu. Hanya ada dua orang petugas kebersihan yang sedang mengangkut tumpukan sampah kering dan basah serta seorang paruh baya yang terlihat memasuki Maybach-nya dengan hidung yang terlihat memerah karena kedinginan. “Mornin’ Bob! How’s it going so far?” teriak Damian dari kejauhan. Bob hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangannya ke arah Damian, lalu dia menghilang ke dalam mobil berkaca sangat gelap itu.

Bob ialah seorang yang sangat unik. Dia kaya raya, uangnya menumpuk di beberapa Bank di Swiss, membeli selusin mansion pun dia sanggup. Apartemen itu memang untuk kalangan atas, tapi dengan kekayaan yang dimilikinya, lebih pantas Bob menjadi pemiliknya. Istri dan ketiga anaknya tinggal di sebuah mansion mewah di daerah Riverside, California. Sebulan sekali Bob mengunjungi mereka selama tiga hari. Kelihatannya hubungan keluarga mereka tidak begitu hangat.

“Bloody motherfucker!” umpat Damian ketika menyadari ada goresan panjang yang melecetkan pintu depan kanan mobilnya. “Perbuatan terkutuk ini selalu saja dilakukan Josh! Apa yang ada di benaknya ketika menyupir dalam  keadaan mabuk seperti itu? Disangkanya mobilku ini terbuat dari baja, apa?” Sudah lima belas kali mobil Damian tergores seperti itu, dan sepuluh diantaranya merupakan perbuatan Josh si tinggi besar, hidung pesek, perut buncit, berbau alkohol itu. “Aku juga sering mabuk, tapi tak pernah sekali pun menabrak!”

Beberapa saat kemudian Hummer itu sudah melaju kencang di Highway 44th. Damian mengemudikan mobil yang kacanya terbuka itu. Sikut kiri Damian terlihat menggantung di tepian kaca itu, dengan kaleng bir Miller dalam genggamannya. Melalui handsfree
yang menempel di kuping telinga kanannya dia hubungi Dr. William, “I’m on my way. I’ll be there in 45 minutes…”
+++++++++

Setelah Damian sampai di tempat Dr. William, dua jam setengah berikutnya Damian habiskan untuk menceritakan kegiatan-kegiatan yang sudah dia lakukan dalam dua minggu terakhir. Sembari berbaring di atas sofa berlapis kulit, sesekali Damian tersenyum dalam tuturan kata-katanya. Sedikit tetesan air mata juga tampak berbayang di pelupuk matanya disaat dia bercerita tentang “kesedihannya” karena mendapat nilai A- dalam suatu tes. Banyak juga guratan dan catatan kecil yang Dr. William tulis dalam buku kecilnya.

“Bagus…bagus…sekarang kamu sudah kelihatan tampak tenang. Hidup itu memang fluktuatif kan Damian? Bagaimana bisa kamu lihat warna hitam jika kertas putih tak pernah kamu tulisi? Bagaimana bisa kamu rasakan keindahan jika kesedihan tak pernah mendatangi kamu? Baiklah, kita bertemu tiga minggu lagi ya Damian! Besok saya mesti ke San Francisco selama dua minggu lebih.”

Dengan secara berkala Damian menceritakan isi hatinya, lima tahun terakhir ini dia berhasil bangkit dari keterpurukan yang pernah hampir mencabut nyawanya. Jika sewaktu itu di rumah sakit ketika Damian sedang diberikan obat penawar racun karena dia menenggak obat tidur secara berlebih dia tidak diperhatikan Dr. William, bukan tidak mungkin Damian akan kembali mencoba bunuh diri. Dr. William sewaktu itu entah kenapa merasa “terpesona” ketika melihat Damian yang sedang tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit itu, sambil tiga orang suster dan seorang dokter jaga sibuk di sekelilingnya. Mungkin memang aneh mendapati sebuah fakta tentang seorang Asia berpenampilan kumuh meregang nyawa di sebuah rumah sakit di Amerika. Seketika itu juga Dr. William yakin bahwa orang itu perlu mendapatkan perhatian kejiwaan.

Sungguh, dengan hanya beberapa bulan konsultasi kejiwaan, Damian mulai menampakkan potensi akademisnya. Berita percobaan bunuh diri yang dilakukan Damian tersebar di seantero kampus. Para Profesor semakin memberikan perhatian khusus bagi Damian, rekan-rekan sekelas Damian beberapa kali mengunjungi Damian secara khusus di rumah sakit dan di apartemennya. Sedangkan Heidi? Hanya seikat bunga dan kartu bertuliskan “Get well soon” yang hinggap di depan pintu apartemennya.

Kurang lebih enam bulan berikutnya Damian sudah mulai bisa mengikuti perkuliahaan secara intensif. Bahkan banyak yang tak menyangka, nilai-nilai yang didapatkan Damian jauh semakin luar biasa saja. Hingga lulus bachelor degree, GPA yang Damian dapatkan tak pernah kurang dari 3,8.

Kuliah tingkat master’s degree juga Damian tamatkan dengan GPA luar biasa memuaskan. Nilai 3,9 dengan gampang dia capai begitu saja. Sekarang, kuliah tingkat doktoral hampir selesai di tuntaskan.

Andai saja Dr. William tidak mewarnai ulang pikiran dan hati Damian, niscaya sekarang Damian telah kembali ke Indonesia dengan tangan hampa.

Semenjak Damian lulus bachelor degree, Heidi sudah tidak ada lagi kabarnya. Banyak yang bilang bahwa dia benar-benar pergi ke Inggris untuk melanjutkan kuliah tingkat master’s degree di Cambridge University.

Upacara kelulusan kuliah masih tiga minggu lagi, tapi tawaran pekerjaan sudah mulai banyak berdatangan. Akhirnya setelah dia lulus dengan keajaiban yang ditunjukkannya (GPA 3,95), Damian memilih untuk menapaki karier pekerjaannya di sebuah perusahaan software. Pertama kali masuk dia langsung menempati posisi HRD Manager, dan selama tahun-tahun berikunya, karier Damian menanjak terus dengan sangat cepatnya.

Kelebatan-kelebatan bayangan Heidi sesekali masih berseliweran di benak Damian. Walaupun pekerjaan selalu membuat Damian sibuk siang malam, tak pernah sekali pun bayangan wanita lain hinggap di pikirannya. Hanya Heidi…selalu Heidi…tak ada yang lain. 

+++++++++

Kini, lima tahun setelah Damian bekerja di perusahaan software itu, dia sudah menjadi seorang CEO. Gajinya sangat besar, jauh melebihi tiga kali lipat gaji Presiden Indonesia sekali pun. Rayuan dan godaan yang hampir tiap hari Damian dapatkan dari bawahan dan rekan kerja wanita nya tak ada yang mampu menembus tembok tebal hati Damian. Tembok tebal itu terkunci rapat, dengan kunci yang ada hanya pada Heidi.

Suatu hari, hujan lebat berangin mengguyur New Orleans. Damian teduduk nyaman di jok bagian belakang limosinnya. Supirnya yang berjas menyupir dengan tegap, matanya dia picingkan dengan kepala yang didekatkan ke kaca depan. Wiper berkecepatan tertinggi pun tidak bisa membuat jelas pandangan supir itu. Hujan parah itu bahkan membuat beberapa pohon tumbang.

“Bisakah kau lebih cepat lagi? Untuk apa kau takut hujan? Saya ingin cepat-cepat sampai di rumah, berendam dalam air hangat ditemani kaleng bir.” Sebut Damian sembari memperhatikan pinggiran jalan. “Yes Sir!” Pedal gas semakin ditekan lebih dalam lagi oleh supir itu.

Tiga puluh sembilan menit kemudian angin sudah berhenti berhembus kencang dan hujan sudah agak reda. Di suatu pengkolan jalan kecil tampak sepasang tua renta berjalan tertatih-tatih. Payung dalam genggaman tangan keriput kakek tua itu tampak bergetar. Sedangkan tangan kiri nenek menggenggam pelan mantel tebal kakek itu. Damian mengernyitkan dahinya. “Sedang apa mereka di tengah guyuran mengerikan seperti ini?” begitu pikir Damian ketika melihat sepasang tua renta itu. “Arthur, menepi! Suruh mereka masuk ke mobil! Brengsek, kemana pula anak kedua kakek nenek itu?! Membiarkan orang tua mereka basah kuyup, mengigil kedinginan…idiot!”

Baru saja limosin itu menepi, sepasang tua renta itu sudah berbelok memasuki sebuah pemakaman besar. “Ya Tuhan…kasihan! Pasti mereka merasa kehilangan sekali! Di tengah hujan lebat seperti ini pun mereka memaksakan diri mendatangi kuburan…” Damian menggigit jarinya, botol bir kosong dilemparkannya ke lantai mobil. “Siapa yang dikubur disana…Arthur, payungi saya!”

Damian menuturi kedua tua itu dari kejauhan, Arthur berusaha melindungi kepala Damian dengan payung sembari melompat-lompat kecil menghindari genangan air. Beberapa langkah kemudian kakek nenek itu berhenti di depan sebuah nisan marmer berukuran sedang. Kepala mereka tertunduk. Walaupun tetesan-tetesan hujan dengan lebatnya masih berjatuhan di pinggiran payung itu, Damian masih dapat merasakan dengan jelas aura kesedihan yang mendalam dari kedua wajah itu.

“Siapa itu, Kek?” tangan Damian menyentuh pundak kakek itu. “Pasti Kakek dan Nenek…”  Damian tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Mulutnya bergetar hebat, diremasnya kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu seketika itu juga Damian terduduk di tengah kubangan air. Tidak dihiraukannya celana Calvin Klein mahalnya menjadi kotor berlumuran air kotor dan lumpur. “Tidaaaaaaaaaaaaakkkkk…………bohong……ini bukan kenyataan!” Nisan marmer itu bertuliskan: Heidi Abigail Krisna, 19 Juli 1965 – 23 Maret 1988.


Kedua tua itu tercengang dengan hebatnya. Tidak disangkanya pada saat itu Damian bisa tiba-tiba muncul di situ. “Damian…kenapa kau bisa ada disini?! Apa yang kau lakukan dari tadi?”

+++++++++

Penjelasan panjang diberikan sepasang tua renta itu. Mereka ternyata adalah orang tua Heidi. Damian tenggelam dalam pelukan keduanya. Dijelaskannya bahwa Heidi terpaksa meninggalkan Damian dengan kejam karena dia mengidap kanker stadium lanjut. Heidi sangat yakin bahwa Damian akan menjadi seorang yang sukses. Tidak terbayangkan dalam benaknya untuk menikahi Damian untuk waktu yang hanya sangat singkat. Heidi merasa jika dia meninggal dengan status sebagai istri dia, maka Damian akan semakin hancur. Lebih baik Heidi tinggalkannya secepat mungkin, dengan “melecehkan” Damian agar dia semakin terlecut kedepannya.

Ibu Damian mendekatkan kepalanya ke arah Damian. Diusapnya kepala Damian yang sudah sangat basah itu. “Heidi meninggalkan pesan. Dia bilang, hanya kau yang ada di hatinya selamanya. Cinta Heidi merangkulmu setiap saat, Damian…”

Tak lagi mampu Damian berkata apapun. Tenaga dia sudah terkuras habis oleh air matanya. Nisan marmem itu Damian dekati, lalu dia memeluknya dengan erat. "Aku berhasil, Sayang! Ini semua demi kau! Tak akan pernah ku menikah hingga malaikat maut menegtuk pintu ku. Kita bertemu lagi nanti...di surga!"


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help